KMI Al-Azhar Bahaudin Porseni
Selasa, 29 September 2015
KMI Al-Azhar Bahaudin
KMI Al-Azhar Bahaudin mengadakan porseni tiap tahunnya dan alhadulillah saat ini pada tahun 2015 sudah mencapai yang ke 19 kalinya.............
Rabu, 23 September 2015
UNTUKMU ALISA
UNTUKMU ALISA
Aku seorang Maha Siswa STKIP PGRI Sumenep merasa
bahagia sekali, akhirnya aku bisa mendapatkan nilai tertinggi, apalagi
mendapatkan seorang wanita yang merupakan bintang kelas dalam dunia
kecantikan. Fitri namanya. Dia seorang wanita yang sangat diburu para lelaki
tapi aku tak perlu memburunya, karena dia sudah terperangkap duluan dalam
jaringku.
Dua tahun telah kujalani, hari demi hari
bersamanya, suka maupun duka selalu aku lewati bersamanya.
Pagi ini aku diminta untuk menemuinya di TB (
taman bunga ). Katanya sih ada perlu penting. Akupun menuruti permintaannya.
“Sayang lama banget sih datangnya? Aku sudah
dari tadi menunggumu disini.” Ucapnya Fitri padaku.
“Maaf aku masih bantu Bapakku dirumah ya jadinya
telat. Aku minta maaf” ucapku padanya sambil membelai-belai rambutnya yang
hitam itu.
“Hey dasar wanita tak tahu malu, sudah tahu
punya Istri masih di deketin” tiba-tiba seorang wanita berkata-kata yang tidak
aku mengerti. Dia bilang aku Suaminya? Kapan aku menikahinya?. Pikirku.
“Hey mbak, maksud mbak apaan? Datang-datang
mengatakan saya sebagai suami mbak, kenal saja tidak.” ucapku pada wanita itu.
“Mas gila ya? Aku ini Ita, lihat mas aku sedang
mengandung anakmu. Mas nggak lupa kan kejadian yang dulu?” ucap kembali wanita
itu. Kapan aku menghamilinya?. Pikirku lagi.
“Plarrrr” tiba-tiba tangan Fitri melayang
dipipiku. Aku mengelus-elus pipiku.
“Sayang apa maksudmu?” tanyaku pada Fitri.
“Tega, aku nggak menyangka kamu menduakan aku,
dan… lihat atas perbuatanmu, wanita itu sedang mengandung anakmu. Pokoknya aku
minta putus.” Ucap Fitri sambil lalu mengusap air matanya. Dan mulai
melangkahkan kakinya entah mau kemana.
“Fitri… Fitri, tunggu.” Panggilku sambil
megejarnya, tapi wanita yang tadi itu menjegatku.
“Hey, cukup. Apa maksudmu? Aku ti-dak
me-nge-nal-mu.” Ucapku marah sekali, baru kali ini aku marah pada seorang
wanita.
Tiba-tiba wanita itu lari menuju motornya, entah
mau kemana.
“Akhhh…” teriakku. Orang-orang disekelilingku
pada melihatku, mulai sejak wanita itu datang hingga dia kabur entah kemana.
*******
Usai kejadian yang tadi pagi, tak ada lagi suara handphone-ku
yang berdering, tak ada lagi wanita yang memanggilku dengan sebutan sayang.
Aku bingung bagaimana caranya agar aku bisa
menjelaskan semua kebenaran yang ada pada Fitri, pasti dia sudah tak ingin
balikan lagi denganku. Tuhan apa yang harus aku lakukan?.
“Aku harus menemui Fitri, ya aku harus, aku
harus menjelaskannya pada Fitri” ucapku dalam hati.
Aku berjalan menuju motorku yang sudah siap
pakai. Ku menghidupkannya dan mulai meluncurkannya menuju rumah Fitri.
Motorku berhenti meluncur pas didepan rumah
Fitri. Aku turun dari motorku dan berjalan menuju daun pintu rumah Fitri.
Aku mendengar suara laki-laki yang asing
ditelingaku dalam rumah Fitri dan juga suara…ya suara wanita yang tadi pagi yang
mengatakan aku sebagai suaminya.
Aku membuka pintu rumah Fitri.
“Fitri, kamu…” ucapku kaget. Fitri dan seoarang
laki-laki yang bertubuh kekar mesra sekali minum minuman keras segala,
begitupun dengan wanita yang tadi pagi yang mengaku aku sebagai suaminya.
“Kenapa kaget melihatku?” ucap wanita yang tadi
pagi padaku “Baguskan Acting-ku mempermalukanmu didepan banyak
orang”
“Cukup! Ternyata kalian bersekongkol ingin
mempermalukanku didepan banyak orang,” ucapku “Fitri, kamu tega, dua tahun kita
menjalin cinta, tapi apa maksutmu melakukan seperti ini?”
“Hey diam! Ini memang sudah aku rencanakan dari
dulu sebelum kita menjalin cinta.
Kamu ingatkan kejadian dua tahun yang lalu?
Sebelum kita menjalin cinta? Kamu membunuh Bapakku, kau telah menabrak Bapakku
hingga tewas seketika” ucapnya Fitri.
“Apa? Fitri aku tidak membunuh Bapakmu, tapi
Bapakmu yang nyebrang sembarangan” paparku pada Fitri menjelaskan kejadian yang
sebenarnya.
“Tidak, Bapakku tidak nyebrang sembarangan, tapi
kamu memang ingin membunuh Bapakku, karena kamu iri pada Bapakku. Dagangan
Bapakmu tidak laku seperti dagangan Bapakku. Sekarang aku sudah bisa
membalaskan rasa sakit yang Bapakku rasakan waktu kamu menabraknya. Dan
sekarang rasakan sakit hati yang mendalam yang mencabik-cabik hatimu, seperti
hatiku yang sakit dan sedih ditinggal pergi Bapakku. Sekarang kamu rasakan dan
perlahan aku akan membunuhmu. Yang kamu rasakan saat ini adalah tahap yang
pertama dan sekarang adalah tahap yang kedua sekaligus tahap yang ketiga
karena kamu datang langsung kerumahku dan kamu akan mati ” tiba-tiba laki-laki
disamping Fitri bangun dan mengeluarkan pisaunya.
“Kau mau ini? Ha…ha…ha… mau tak mau harus mau”
ucap lelaki yang berpostur tubuh kekar itu. Dia melangkahkan kakinya dan
mentudingkan pisaunya padaku dan sesekali dia memainkan pisaunya. Untung saja
aku bisa menghindarinya.
“Hey cukup! Aku tak mau berurusan denganmu dan
ini bukan urusanmu” ucapku pada lelaki berpostur tubuh kekar itu yang hampir
menusukku dengan pisaunya yang bergigi layaknya gigi gergaji.
“Ha? Bukan urusanku? Kau gila? Dia itu pacarku,
jadi urusannya juga termasuk urusanku juga” ucap kembali laki-laki itu. Sekali
lagi dia memainkan pisaunya dan kali ini juga ia berhasil menggores pipiku.
Untung saja hanya sedikit pisaunya melukaiku.
“Baik kalau kau memang ingin berurusan denganku”
ucapku sambil mengusap darah dipipiku.
Kemarahanku sudah naik. Terpaksa aku harus
melawan, walaupun aku tidak suka berkelahi sih tapi mau gimana lagi, mau tak
mau harus mau, dari pada bahaya.
Saat lelaki berpostur tubuh kekar itu ingin
menusukku aku bergegas cepat mengelak dan cepat mengambil tangan dan memutar
balikkan pisaunya yang tadi ingin melukaiku ke lehernya.
“Sekarang kau masih mau berurusan denganku? Kau
mau senjata ini melukai tuannya sendiri?” ancamku pada lelaki itu. Padahal aku
paling takut melihat darah jikalau aku melukainya dan keluar darah bisa-bisa
aku pinsan.
“Plarrrrr” tiba-tiba botol miras pecah
dikepalaku. Fitri memukulku dengan botol mirasnya. Kepalaku menjadi puyeng,
dunia ini terasa bergoyang.
Dengan sekuat tenaga aku memukul lelaki bertubuh
kekar itu hingga tersungkur. Pisau ditangannya aku buang jauh-jauh keluar.
Saat lelaki bertubuh kekar ingin bangkit, aku
memukulnya lagi hingga tersungkur. Aku cepat-cepat lari menuju motorku setelah
memukul habis-habisan lelaki bertubuh kekar itu hingga tak berdaya.
Motorku meluncur dengan tidak stabil, karena
kepalaku ini yang terluka akibat botol haram itu.
Saat ditengah perjalanan motorku tak bisa lagi
kukendalikan, tanganku tak lagi kuat untuk menggerakkan setir motorku. Kepalaku
tambah puyeng serasa walaupun ingin meminum Bodrex satu truckpun takkan mungkin
sembuh puyengku ini. Pandanganku jadi gelap… semakin gelap … dan aku tak ingat
lagi.
*****
Tiba-tiba aku sudah terbangun dari tidurku, aku
tak tahu aku sedang berada dimana, disampingku terdapat sebuah tiang yang
bergantungan sebuah botol infuse yang mengalir ketubuhku. Dikepalaku terdapat
lilitan perban dan …
“Hay, kamu sudah siuman?” seorang Wanita cantik
menyapaku. Kerudung merah menutupi kepalanya dengan begitu indahnya dan
membuatnya semakin cantik.
“Kamu siapa?” tanyaku. Aku berusaha untuk duduk
dan sulit sekali. Wanita itu membantuku.
“Aku Alisa. Kamu jatuh dari motormu dan aku
membawamu kesini” ucapnya Alisa sambil tersenyum manis sekali, “Tapi aneh
padahal nggak ada pecahan kaca dan motormu juga tidak terlalu parah tapi
mengapa kepalamu banyak pecahan kacanya?”
“Fit…ya Fitri yang memukulku dengan botol
minuman keras dikepalaku”
“Aaa…..” aku menjerit, kepalaku sakit sekali.
“Eh, kamu kenapa? Udah jangan dipaksa untuk
mengingat lagi” ucapnya sambil menidurkanku.
*****
Kini aku sudah bisa pulang. Ibuku membayar biaya
rumah sakitku.
Aku masih penasaran dengan wanita yang
menolongku.
“Alisa, ya Alisa aku ingat namanya” ucapku dalam hati.
Aku dan Ibuku menaiki mobil Bapakku yang baru
beli beberapa hari yang lalu berkat hasil kerja kerasnya dan doanya hasil
dagangannya laris manis sekali sehingga bisa membeli mobil baru walaupun hanya
mobil Carry dan masih kredit. Tapi nggak apa-apa semoga dengan mobil itu usah
Bapak semakin lancar. Amien.
Mobil Bapakku meluncur santai sekali. Biasa
Bapakku baru seminggu belajar mengemudi.
Aku melihat suasana disekelilingku malam ini.
Aku sangat senang dengan kota Sumenep ini. Tanah kelahiranku yang penuh dengan
lampu-lampu. Aku lebih senang menyebut kota Sumenep ini dengan kota lampu.
“Alisa,” ucapku kaget. Alisa seorang wanita yang
berparas cantik rupawan yang aku kira orang berada, ternyata jualan martabak
membantu seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah ibunya. Aku salut
sekali padanya selain cantik dia juga berbakti pada orang tuanya.
“Pak berhenti disini sebentar” ucapku pada
Bapakku.
Aku turun dari mobil dan berjalan menuju lisa
yang sedang sibuk dengan pelanggannya.
“Mbak, pesan satu martabaknya” ucapku pada
Alisa. Aku pura-pura seperti orang yang tak mengenalnya.
“Baik mas” ucap Alisa tak memandangku, karena
sibuk dengan martabaknya.
“Ini Mas” ucap kembali Alisa sambil menyodorkan
pesananku. Kini dia memandangku.
“Kamu!” ucap Alisa kaget. Ia tak menyebut namaku
karena aku lupa tak sempat mengenalkan diri.
“Ia aku. Riski” ucapku.
“Oh…Riski namamu”
“Ia. Ris-ki. Berapa martabaknya?”
“Mm…nggak apa-apa gratis karena kamu pelanggan
baru disini”
“Gratis”
“Ia gra-tis ini”
“Ekhmmmm….” Tiba-tiba seorang laki-laki berdeham
dibelakangku.
Aku membalikkan badanku.
“Kamu!” ucapku kaget.
“Ia aku datang kemari untuk membalas
perlakuanmu tiga hari yang lalu, kamu ingatkan?” ucap lelaki bertubuh kekar
itu.
“Udah cukup, aku tak mau berkelahi lagi.”
Ucapku.
“Tapi aku mau”
“Bukkkkk” tiba-tiba tangan lelaki bertubuh kekar
itu bersarang dihidungku. Hidungku berdarah.
“Buk…Buk…Buk…” kali ini tangannya bersarang tiga
kali diperutku.
Aku tersungkur. Alisa menghampiriku.
“Pindah! Kamu ingin mati juga seperti laki-laki
itu.” Teriak laki-laki itu.
“Silakan saja kau bunuh aku, tapi mana
derajatmu? Beraninya pada wanita dan pada orang yang lemah” ucap Alisa dengan
keberaniannya yang membuatku kagum padanya.
“Cuih…” laki-laki itu meludah, “Banyak omong”
kali ini tak kuduga, laki-laki itu ingin memukul Alisa.
Dengan tenagaku yang tersisa aku menahannya.
“Kau berani menyentuh wanita ini, aku akan
mengantarmu kerumah terakhirmu” Ucapku padanya.
“Buk…” aku menerjang lelaki bertubuh kekar itu
hingga ia tersungkur.
“Riski kamu sedang lemah, jangan melawan lagi.
Hey tolong jangan diam saja” ucap Lisa pada pelanggannya yang hanya diam
melihatku berkelahi.
“Diam ditempat, atau pisau ini akan menyayat
leher kalian” ancam lelaki bertubuh kekar itu. Pelanggan- Pelanggan itu pada
diam tak ada yang berani untuk membantu.
Laki-laki itu menghampiriku dengan sedikit gaya
memainkan pisaunya.
“Hey jangan macam-macam” ucapku. Tapi laki-laki
itu semakin berlari kearahku dan…..
“Rasakan ini” ucap laki-laki itu stelah
menusukku dengan pisau bergiginya.
“Riskiiiiii” teriak Alisa menghampiriku.
“Jangan bergerak” tiba-tiba dua orang polisi
datang.
Laki-laki itu mengangkat tangannya. Dua polisi
itu menghampirinya dan memborgolnya.
“Riski, kamu masih kuat kan?” ucap Alisa sambil
menangis.
“Alisa, kamu perhatian sekali padaku” ucapku
lemah sekali.
“Riski, semenjak kali pertama aku melihatmu
hatiku menjadi tentram dan aku mulai jatuh cinta padamu, aku mohon bertahanlah
demi aku” aku tersenyum padanya, tak kusangka dia cinta padaku padahal baru
kenal. Mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Alisa, terimaksih, tapi aku sudah …………..”
*****
Tiba-tiba saat aku terbangun dari tidurku, aku
tak tahu lagi ada dimana, sepertinya aku sedang berada di rumah sakit, soalnya
di sampingku sama persis dengan yang kemarin, sebuah infuse yang mengalir ke
seluruh tubuhku dan juga sama seorang wanita cantik berada di sampingku,
menemaniku.
“Kamu sudah siuman?” sapanya masih sama seperti
yang kemarin. Tapi, hanya beda kini air matanya tak henti-hentinya meleleh dari
pelupuk matanya yang indah itu.
Aku menyentuh tangannya yang begitu halus nan
kain sutra itu. Dia menimpal balikkan tangan kirinnya di atas tanganku yang
memegang tangan kanannya.
“Kamu bisa bertahan kan? Aku mohon.” Tanyanya
lembut sekali.
“Ya, aku bisa untukmu” jawabku lemah sekali.
Mendengar perkataanku Alisa kini membuka lebar bibirnya dan tersenyum indah
sekali.
“Akan kupegang janjimu” ucapnya lagi yang membuatku tak kuasa
untuk membendung air matanya yang terus-terusan bercucuran dari matanya dengan
keadaanku yang lunglai lemas tak berdaya ini. Tapi , aku berusaha sekuat
tenagaku, menggerakkan tanganku untuk menyentuh pipinya yang mungil dan
menghapus air matanya yang jernih nan kristal itu.
“Alisa tak perlu kamu menangisiku seperti ini,
aku lebih senang melihatmu tersenyum, coba senyum, pasti bunga ini tak akan
sanggup untuk mekar melihat senyummu” ucapku sambil menghapus air matanya.
Alisa mulai membuka lebar bibirnya dan mulai tersenyum indah sekali.
“Permisi Mbak” tiba-tiba seorang Suster datang
dengan meja dorongnya yang terdapat sebuah mangkok dan gelas. Suster itu
meletakkannya diatas meja disampingku.
“Makasih Sus” ucap Alisa pada Suster itu. Suster
itu mengangguk dan mulai berjalan meninggalkanku dan juga Alisa di ruang rawat
ini.
“Riski kamu makan ya, terus minum obatnya, biar
cepat sembuh” ucap Alisa sambil mengambil mangkok yang berisi bubur.
Aku mengangguk, walaupun aku tak berkenan untuk
makan karena lidahku ini yang tak lagi bisa membedakan mana asin, manis, kecut
melainkan yang aku rasakan hanya rasa pahit dan hambar yang aku rasakan
dilidahku ini. Tapi, aku tak kuasa untuk menolak permintaan Alisa yang selama
ini amat perhatian padaku. Aku paksakan untuk makan walaupun sulit sekali untuk
aku telan.
“A....Aaa...” ucap Alisa sambil menyodorkan
sendok yang berisi bubur ke mulutku. Aku membuka lebar-lebar mulutku
menurutku, walaupun tidak lebar menurut Alisa.
Saat bubur itu tiba di lidahku, rasa manis dan
segalanya tak kurasa, hanya rasa hambar dan pahit yang kurasa. Aku berusaha
umtuk menelannya tapi, saat bubur itu tiba di perutku, aku menjadi mual. Alisa
mulai kerepotan. Aku mulai mumuntahkan bubur yang Alisa suapin padaku,
disusul dengan darah, Alisa tambah bingung, air matanya kembali tumpah dari
pelupuk matanya.
“Dok...Dok...” panggil Alisa ketakutan. Alisa
memegang tanganku.
“Riski, kamu kenapa?” tanyanya ketakutan sekali.
Air matanya menetes di mataku.
“Aa..li-sa, aa..ku nggak apa-apa kok, jangan
me-na-ngis” ucapku tersenggal-senggal.
Sekali lagi aku muntah darah, tapi kali ini
darah yang keluar dari mulutku bukan lagi darah yang cair melainkan darah yang
kental dan hitam.
“Riskiiii” teriak Alisa. Histeris.
“Dok…Dok…” panggil Alisa lagi kebingungan.
Akhirnya seorang Dokter datang dengan tiga orang Suster.
“Maaf Mbak, mohon ditunggu diluar” ucap salah
seorang Suster pada Alisa.
“Tapi Sus…” ucap Alisa ingin tetap di ruangan
ini. Tapi, Suster itu memaksanya untuk menunggu di luar, karena sudah peraturan
di rumah sakit Anwar ini.
Akhirnya Alisapun mengikuti perintah Suster itu.
Suster itu menutup rapat-rapat pintu ruang rawatku.
Dokter yang sudah rapi dengan jas putihnya itu
mulai mengambil sebuah botol mini yang berisi cairan putih aku tak tahu apan
itu dan menyedotnya dengan suntikan yang menakutkan sekali bagiku.
Suster itu mulai menyuntikku hingga aku tak
sadar lagi.
*****
Kini aku mulai bisa membuka mataku. Cahaya mentari sudah mengintip malu-malu di
balik jendela ruang rawatku ini.
Disampingku ada Ibu dan juga Bapakku. Tapi, ada
yang kurang. Alisa kemana pikirku.
“Nak, kamu sudah siuman” ucap Ibuku. Menyambutku
dengan air matanya yang tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
Aku mengangguk. Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Tanganku masih lunglai tak kuasa untuk bergerak.
“Bu, Alisa mana?” tanyaku lemas sekali. Volume
suaraku rendah sekali.
“Alisa masih belum turun dari mushalla sejak
subuh tadi, masih mendoakanmu nak.” Ucap ibuku. Aku tersenyum mendengarnya.
Ternyata Alisa memang benar-benar tulus mencintaiku. Mendengar perkataan Ibuku,
tenagaku menjadi bertambah munkin akibat doa Alisa yang di ijabah oleh Allah
SWT.
“Itu Alisa datang” ucap Ibuku. Aku melihat
kepintu, benar memang seorang wanita yang memang Alisa datang menghampiriku dan
duduk di sampingku berhadapan dengan Ibuku.
Aku tersenyum padanya. Ibu dan Bapakku mulai
melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku entah mau kemana.
“Maafin aku, gara-gara aku nyuapin kamu tadi
malam kamu muntah darah begitu” ucapnya Alisa.
“Kamu tidak perlu minta maaf, bukan salahmu”
ucapku menenangkan Alisa dengan suaraku yang tidak begitu jelas karena mulutku
yang tertutup dengan alat bantu pernafasanku.
“Riski kamu harus ingat janjimu, kamu harus bisa
bertahan untukku” ucapnya dengan padangannya yang begitu lembut dan juga dengan
suaranya yang serak. Munkin akibat sering menangis.
“Ya.” Ucapku sambil mengangguk “Alisa kamu
pulang dulu, biar ibu dan Bapakku yang menjagaku disini kasian Ibu dan Bapakmu,
pasti mereka hawatir padamu”
“Tapi…”
“Udah, jangan tapi-tapian kamu mau aku ingkar
janji padamu” ucapku sedikit mengancam. Demi kebaikannya juga.
“Baik aku pulang, tapi kamu harus bertahan aku
mohon, untukku” ucapnya memelas sekali. Aku jadi nggak tega melihatnya karena
perkataanku tadi yang menyuruhnya untuk pulang.
“Ya aku janji” ucapku lagi sambil senyum
padanya. Alisa mulai beranjak pergi “Alisa” panggilku lirih. Untung saja Alisa
mendengarku “Alisa senyum” Alisapun mulai membuka lebar bibirnya dan mulai
tersenyum. Dan kini Alisa mulai berjalan dan mulai hilang dari pandanganku.
Aku mulai menutup rapat mataku.
*****
Moh. Hosaini
KMI Pesantren Modern Al-Azhar Bahaudin
Pamolokan Sumenep
Sabtu, 05 September 2015
PANTUN
Ke bukit ingin nyabit rumput
Ke laut ingin mancing ikan
Janganlah kita takut
Karena kita di dampingi tuhan
Pagi-pagi sarapan roti
Siang-siang makan nasi
Marilah ingat mati
Jangan lupa ajal selalu menanti
Jalan jauh bikin penat
Agar seger minum coca cola
Mengapa dirimu berkhianat
Padahal aku setia
Jadi tukang kuli bikin capek
Jadi pejabat taku korupsi
Kalau kau punya cewek
Ingat jangan kau sakiti
Jalan-jalan ke Kalimantan
Setelah pulang dari semarang
Lebih baik kaki kepanasan
Dari pada pakai sandal orang
Lupa makan jadi
lapar
Lupa api jadi
terbakar
Ayo jangan malas belajar
Agar jadi anak pintar
KMI Al-Azhar Pamolokan-Sumenep
KMI Al-Azhar Pamolokan-Sumenep
Langganan:
Komentar (Atom)